Kamis, 04 Juni 2009

LOVE STORY


BAGIAN KE TIGA

“Ebeh pulang….. “ teriak anaknya menyambut kedatangan Iwan. Dengan membentangkan tangan dia sambut kedua anaknya yang berebut memeluk Iwan. Dia kecup kening kedua anaknya bergantian.
“Ade sudah mandi….” Tanya Iwan kepada si kecil
“Mas sudah mandi beh… pake bedak superman” sahut Mamas anak yang paling besar ingin mencuri perhatian ayahnya.
“ wuah… pinter sekali… wangi sekali anak ebeh” sambil mengusap rambut kedua buah hatinya.
“Mas tadi sekolah gak” Tanya Iwan.
“ Sekolah… dianter mami Nina…” jawab Mamas
“ Wuah… mami Nina ga kerja ya…” lanjut Iwan
“ Kerja, tapi terus jemput Mamas, mampir dulu di kantor mami” terang Mamas
“ Wuaduh… pasti makan enak dong…” selidik Iwan
“ Mamas makan sup…” celoteh Mamas dengan semangat.
“ ade makan tup tuga…” ade gak mau kalah
“ ade makan sup juga… he emh,,,.. pinter’ puji Iwan.
“ Ebeh mandi dulu nak ya…. Ebeh bau…” sambil melepaskan pelukannya Iwan meletakkan tas laptop dan melepas sepatunya.
“ Emeh mana nak…” Tanya Iwan kepada Mamas.
“ Emeh sakit beh… “ jawab sang kakak.
“emmmohhhh…. “ dia kecup kening Istrinya.
“hik hik….” Saut Istrinya menyambut Iwan sambil mengulurkan tangannya yang basah.
“ takit ya…. Cian na…” sergah Iwan sambil menepuk-nepuk punggung Istrinya
“ maaf ya pom… mom ga masak hari ini….” terang Istrinya.
“ Iya… ga apa apa … sudah biasa….hehe…” canda Iwan
“ heeeeemmmmm” saut istrinya

Inilah sepenggal kejadian yang sering dialami Iwan, dikala pulang kerja dia harus bergelut lagi dengan pekerjaan rumah. Segera memandikan anak, memasak dan merapikan rumah. Sakit istrinya sering datang. Terutama semenjak melahirkan anak yang kedua. Pasca melahirkan harus kuret kandungan lagi karena terjadi pendaharaan hebat. Derita ini menambah parah sakit pernapasan yang dideritanya sejak kecil. Letih dan lelah seolah mengisi keseharian Iwan. Namun karena dia sadar bahwa ini kewajiban dan pilihan hidupnya, Iwan mencoba untuk tetap bertahan dan tidak mengeluh kepada siapapun.

Waktu istirahat yang tidak mencukupi, perhatian istri yang terkadang kurang, terlebih pemenuhan naluri Iwan yang sering ditolak istri karena sedang berjuang untuk hanya sekedar mendapatkan nafas yang melegakan memang merupakan ujian kesabaran dari Iwan. Dia ingin sekali mencurahkan isi hatinya kepada seseorang, entah siapa. Yang penting orang ini mau mendengar. Karena Iwan merasa, tidak mungkin cerita ke saudara-saudaranya. Iwan juga Tidak ingin membebani pikiran orang tuanya dengan keluh kesahnya.
Pernikahan dengan istrinya tidak direstui. Alasan sakit yang di derita sang istri dan latar belakang keluarga istri yang bagi keluarga Iwan tidak jelas sehingga membuat mereka tidak rela kalau pilihan Iwan jatuh ke istrinya sekarang. Seolah termakan pepatah “ cinta itu buta”, membuat Iwan nekad pada pilihannya. Iwan berhasil melawan ketidak setujuan pernikahannya, meski dengan catatan dan menjadi komitmen bahwa ini adalah pilihan hidup.

Tuntutan dan tekanan pekerjaan terkadang menghangatkan pergumulan keluh kesah Iwan. Konflik dengan rekan kerja menyita energi yang cukup banyak sehingga tak bisa dihindari, terkadang Iwan melampiaskan kekesalannya dengan anak istrinya. Kemarahan kadang tidak bisa Iwan bendung, sehingga pernah suatu ketika Iwan kalut memaki-maki istrinya. Namun karena istrinya memahami kondisi Iwan, perselisihan dan adu mulut lebih sering dapat dihindari.

Malam itu anak-anak dan istri Iwan tertidur pulas. Entah mengapa, giliran Iwan yang gelisah dan tidak bisa tidur. Mungkin karena kelelahan. Di saat seperti itu biasanya dia iseng mengambil HP dan memain-mainkannya. Membuka Game, membuka SMS, memencet menu-menu yang ada di HP tanpa tujuan jelas. Tanpa sadar dia mengetik sebuah nama “ uut….” Dan dia kirim ke nomor yang sudah dia hafal.
Dan langsung dapat balasan dari seberang sana. “dalem….”
“blm tidur… sdang ap?”
“blm…. Agi ingat bp….”
“knp….?”
“au… inget aja”
“Ko sama ya…. Pas q sapa kau inget aq … hehe”
“Jodoh kali pa…”
“Huss…..”

Lama masing-masing terdiam. Termenung lagi dan Iwan menerawang, apa arti semua ini. Mungkin ini hanyalah sebuah keisengan saja. Iwanpun mencoba tidak terlalu menanggapi dan mencoba melupakan Uut untuk malam.

“pa….” Sms dari Uut
“iy….” Jawab Iwan singkat
“Knp bp td sms sy…. “
“ Ga tahu… sy ga bisa tidur…kecapean….”
“cian na..”
“Cape lahir batin…”
“boleh ko… curhat ma uut”
“hemmm….”
“ga mau jg ga papa…”
“hmmm…”
“y sdh…, met mlm bp :-*”
“Uut…”
“aq hny akan crt kalo lu mmg org dktq…”
“kau mau kan jg rhsq… soalnx nh mslh prbd bgt…”
Iwan menyerbu dengan sms ke Uut, ada suasana ketakutan kalo Uut hentikan smsan begitu saja. Uut menyambut dengan balasan yang penuh perhatian. Mereka terbawa dengan percakapan sms yang membawa Iwan larut dikeheningan malam. Entah berapa puluh mereka saling menerima dan mengirim sms. Tidak terasa lonceng di pos ronda berbunyi sebanyak 12 kali. Mereka bersepakat untuk melanjutkan percakapan esok harinya.

Selama dua hari ini Iwan memperoleh keteduhan di bawah perhatian mahasiswinya. Sehingga tidak terasa mereka sudah mulai akrab. Tidak hanya di SMS tetapi di kesehariannya, intensitas pertemuan mereka sempat menjadi perhatian teman-teman sekelas Uut. Seolah tidak peduli, padahal teman-teman di kelasnya sudah mulai curiga kalai mereka berdua ada apa-apa. Anggap saja hubungan ketua kelas dengan dosen, memang mengharuskan sering berkomunikasi.
Saat-saat seperti ini Iwan merasa diperlukan oleh Uut. Terlebih banyak tugas kuliah Uut yang minta dibantu, dan semua bisa diselesaikan oleh Iwan. Bahkan tidak hanya itu tawaran Iwan untuk membantu urusan finansialpun di sambut dengan baik oleh Uut. Selama dua hari ini pula, Iwan merasakan menemukan kedamaian dalam hatinya. Terlebih Uut mau menemani Iwan di ruang kerjanya untuk hanya sekedar ngobrol menunggu jemputan Uut untuk pulang. Bahkan seperti disengaja, Uutpun minta di jemput jam enam sore agar dapat berlama-lama dengan Iwan.
Kedekatan ini makin berubah menjadi kemesraan yang melenakan Iwan. Kemanjaan Uutpun ditanggapi Iwan sebagai perlunya akan kasih sayang dari Iwan. Tidak pernah terlewatkan keinginan Uut yang tidak dipenuhi oleh Iwan.

Hal yang tidak terduga adalah Uut menerima permintaan Iwan untuk mengisi kekosongan sisi hatinya. Uut mau dan rela menjadi kekasih Iwan. Semua bagai air mengalir tidak pernah ada paksaan. Seolah sedang membangun mimpi merekapun sering berandai-andai dalam percakapannya. Bahkan Uut pernah bilang asal jangan dikekang, Uut akan memberikan perhatian kepada Iwan, biarkan semua berjalan apa adanya. Merekapun sadar, Iwan punya anak istri dan yang membuat hati Iwan berbunga-bunga Uut mau menerima keadaan Iwan.

Suatu ketika disaat Ujian Akhir Semester. Ujian kuliah pertama bagi Uut. Sebagaimana biasa tugas rutin Iwan adalah mengkoordinir pelaksanaan ujian di kampus itu. Termasuk mengumpulkan dan memperbanyak soal ujian dari seluruh dosen untuk seluruh mata kuliah yang ditawarkan. Dan Uutpun tahu itu.
“pa… uut boleh minta soal ga?” rengek Uut
“ga boleh dhe…. Belajar ndiri np…?” tukas Iwan
“ ya udah… Uut ga mau minta dua kali…!”
“ ga gitu dong… ini kan curang…”
“ ga papa… jangan menghubungi Uut lagi!

Terdengar bunyi… tut… tut… tut…
HP Uut langsung dimatikan. Uut ngambek. Iwanpun kelabakan. Dia pencet nomor HP Uut dan tidak terdengar nada sambung, Iwan kebingungan. Membocorkan soal adalah bentuk kecurangan dan pengkhianatan kepada dosen dan mahasiswa yang lain.
Masih berusaha untuk tenang, Iwan mengirim SMS ke HP Uut, dengan harapan kalau HP dibuka Uut mau diajak bicara . Lama menunggu. hingga akhirnya di hampir tengah malam ada sending report dari nomor HP yang tidak asing lagi bagi Iwan.
Dengan nada yang kelihatan tenang Uut sampaikan bahwa Uut tidak ngambek, tapi HP Uut low bat dan tidak bisa di isi ulang karena alatnya ketinggalan di rumah. Ketika sampai di rumah Uut kelelahan dan langsung tidur sehingga tidak sempat menghidupi HPnya. Iwanpun akhirnya merelakan diri untuk memberikan soal-soal ujian yang sudah terkumpul kepada Uut.
Seusai ujian, perkuliahan memasuki masa liburan. Intensitas pertemuan mereka mulai berkurang. Tetapi komunikasi melalui HP makin intim dan tidak terbendung lagi. Entah angin apa yang berhembus, Iwan semakin mabuk kepayang dengan gadis ini. Iwan memanjakan Uut dan Uutpun menerima semua perhatian Iwan. Setiap percakapan selalu terjadi dengan penuh kemesraan laksana dua insan yang sedang memadu kasih. Iwan terpesona oleh kelebihan yang ada gadis pujaannya. Kepiawaian Uut semakin menyempurnakan kegaguman Iwan kepadanya. Saat liburan itu, untuk mengobati kerinduan, Iwan mencoba mengatur pertemuan, itupun kalau Uut tidak keberatan.
Saat liburan tiba, yang pada saat itu berbarengan hari raya Imlek, selepas mengunjungi mantan rekan kerja Iwan yang merayakan hari raya ini, Iwan sengaja mengabari Uut. Iwan mengajak jalan-jalan anaknya ke Mall dan mengundang Uut untuk bergabung. Tidak disangka Uut mau memenuhi undangannya. Mereka janjian untuk bertemu di TimeZone. Dengan ditemani adik kecilnya Uut berpenampilan tidak seperti biasanya, kaos oblong putih tetap berkerudung, tetapi mengenakan bluejeans yang agak ketat. Penampilan yang seperti ini semakin membuat dada Iwan berdecak kagum. Jilbab rupanya hanya dipakai Uut untuk kuliah.

Pada saat bersantai ini, banyak cerita yang diungkap oleh Uut tentang dirinya. Dari mulutnya yang mungil tak henti-hentinya Uut menceritakan masa-masa lalunya. Uut yang tidak bisa mengaji. Gaya dan penampilan Uut yang tomboy, masa-masa kecil Uut dan masih banyak lagi cerita yang keluar begitu saja. Iwanpun mendengarkan dengan penuh perhatian. Tidak sadar waktu makan di fastfood Uut menyelinapkan kepalanya tanda bersembunyi dari seseorang. Iwanpun memperhatikan gerak-geriknya. Rupanya orang yang dimaksud Uut ini makan di restorant yang sama. Akhirnya masing-masing berusaha untuk bersikap tenang dan Iwanpun mengabaikan kejadian itu.
Seusai makan, dalam perjalanan keluar Mall Iwan mencoba menanyakan kejadian yang baru dia amati.
“Tadi waktu makan kau kenapa, sembunyi dari seseorang?” Tanya Iwan sambil melompat di tangga berjalan menggandeng anaknya.
“ oh … iya… saya ketemu dengan mantan… eh mantan teman saya…” jawab Uut gugup
“kenapa sembunyi?”
“ ih… siapa yang sembunyi!”
“ tadi kau tundukin kepala dan berlindung dari aku”
“… emmmm.. malu kali, masa ABG jalan-jalan ama Oom oom….ntar gue dikira apaan lagi!
“Iya sih…. Ya sudah… kamu mau diantar sampai parkiran?”
“ eh… enggak…. Kita berpisah di pintu keluar aja” jawab Uut gugup
“ kenapa gugup seperti itu….?” Tanya Iwan agak keheranan
“ saya mau ketemu tante… jadi mas pulang duluan aja deh ya” sambil menarik tangan adiknya Uut berputar untuk menemui ibu-ibu yang rupanya sudah menunggu di pintu luar Mall. Dan tidak sempat pamitan lagi akhirnya mereka berpisah, Iwan pulang dan Uut meneruskan perjalananannya dengan tantenya.


Masa libur telah berlalu, selama itu pula komunikasi dua insan ini semakin terlihat mesra. Tanggapan Uut atas perhatian Iwan semakin memantapkan Iwan untuk jatuh hati padanya. Kondisi istri Iwan di rumah tidak kunjung membaik. Jika kambuh sakitnya maka Iwan merasa terbebani. Harus mengurus diri, urus istri, anak yang sangat aktif dan keadaan rumah yang sering terbengkalai. Pada saat-saat seeprti itu pula hasrat Iwan kepada sang istri selalu tertolak. Membuat Iwan pusing dan cenderung gampang marah. Sehingga Iwan merasa kemesraan dengan istrinya mulai bermasalah. Akhirnya Iwanpun ceritakan juga kepada anak didiknya ini. Cerita kehidupan suami istri yang tidak layak diceritakan kepada siapapun. Terjadilah obrolan mereka di SMS mengarah kesana. Dan lagi-lagi Iwan semakin tidak berkutik dalam dekapan kepiawaian Uut yang melenakan hati Iwan. Meski hanya sebatas lewat sms, rayuan Iwan ditanggapi dengan manis oleh Uut. Ajakan Iwan tidak pernah ditolak oleh Uut. Pernah terjadi sesuatu…. Dan hanya Allah, Iwan dan Uut yang tahu, apa yang mereka lakukan di sms-sms mereka.

Kepiawaian Uut akhirnya membuntukan logika Iwan. Akhirnya Iwan sadar dan tidak dapat menahan hasrat itu pada Uut. Namun dia masih takut kepada Allah. Dan Iwan tahu apa yang selama ini dilakukan dengan Uut adalah sebuah pelanggaran. Iwan mengajak menikah Uut. Tetapi Uut balik berontak dan Uut mengingatkan bahwa dia tidak bisa dipaksa. Kalau dipaksa pasti akan meninggalkan Iwan. Kejernihan berpikir Iwan telah ditutupi oleh naluri yang membutakan mata hati.

Seiring dengan bergantinya hari, keanehan demi keanehan Iwan jumpai dalam diri Uut. Uut memanggil Papa, kadang Papi, kadang Mas, bahkan tidak jarang memanggil suamiku….. seperti hidup di alam mimpi. Tidak mau dinikahi tetapi panggilannya begitu, tidak mau dinikahi tapi pernah bilang … nanti papahnya yang ajari anakku ngaji dong! Pernah bercanda kalau mau nikahi saya sediakan rumah dan seisinya, giliran di sanggupi Iwan. Isinya adalah suami. Dan suaminya bukan mas Iwan. Inilah benturan baru dalam kehidupan Iwan. Hati dan pikiran Iwan mulai memanas dengan gesekan perasaan tentang diri Iwan.

Suatu ketika seusai kuliah, seperti biasa Uut menunggu jemputan setelah menemani Iwan merapikan meja kerjanya. Saat jemputan sudah dekat, untuk mengurangi kecurigaan mahasiswa yang lain dan sang penjemput Uut, Iwan pulang lebih dulu dibanding Uut. Sewaktu Iwan akan keluar dari gerbang kampus dijumpainya Obie teman sekelas Uut.

“Obie… temeni Uut tuh kasian udah mulai gelap dia sendirian” basa-basi Iwan kepada Obie “ Ga pak…. Uut sebentar lagi dijemput ama pacarnya pak” jawab Obie

Dalam laju kendaraan itu, dada Iwan tersentak. Uut bilang tidak pernah pacaran. Tidak punya pacar. Yang menjemput tiap hari itu adalah masnya yang juga alumni kampus yang sama. Kerja di pertamina yang tidak jauh dari kampus. Informasi Obie ini membuat Iwan penasaran. Iwan cemburu. Ditengah jalan Iwan menghentikan motornya dan meng-sms Uut.
Uut… yang jemput kamu itu siapa?
Sms itu tidak langsung di balas, mungkin karena Uut masih dalam perjalanan sehingga dia tidak mendengar kalau ada sms masuk. Dan menunggu membuat Iwan semakin gelisah.

Menjelang adzan maghrib Iwan sampai dirumah. Anaknya sudah menunggu untuk shalat berjamaah di mushalla. Istri masih terbaring dan masih batuk-batuk. Berusaha untuk bangun dan ambil air wudhu. Iwan menaruh tas dan HP di atas meja. Adzan berkumandang Iwan dan Anaknya berangkat shalat di mushalla. Sepulangnya istri Iwan menyodorkan HP ke Iwan. Sambil bertanya siapa Uut? Bagai disambar petir Iwan kaget bukan kepalang. Sms dari Uut adalah :” masss……..” Kali ini Iwan kelupaan untuk menghapus semua sms dari dan ke Uut. Istrinya bilang. Masa mahasiswi manggil dosennya kaya gitu… Iwan sulit mengelak. Iwan tersinggung dan langsung membanting HP itu keras-keras hingga baterai dan chasingnya terpisah. Entah kesal kepada HPnya atau kepada Istrinya karena “perselingkuhan”nya mulai tercium oleh istri.
Bahkan di ujung lidah Iwan hampir lahir kata-kata : cerai kah kita!!!

Iwan menahan diri. Iwan menjerit dan Iwan menangis tersedu-sedu. Perlahan istri Iwan mendekat. Sambil terbatuk-batuk dan dengan nafas tersengal-sengal istrinya mulai berbicara.
“ beh… saya Cuma nanya, siapa Uut? Kalau mahasiswi atau siapapun dia tidak layak dengan laki-laki seperti itu. Bisa mengundang fitnah….” Lirih istrinya bersuara
“ tadi kan saya nanya ama Uut, siapa yang jemput kamu itu” terang Iwan sambil sesenggukan
“ karena mungkin lagi di jalan dia tidak sempat menjawab, baru di jawab seperti itu pas saya shalat” lanjut Iwan.
“ beh… sebenarnya saya ga Cuma sekali itu baca sms dari Uut. Waktu Uut bilang” kita coba jalani dulu deh…” dan saya baca sms yang terkirim ke nomornya ajakan ebeh seperti itu… saya Cuma diam aja” saya tahu itu beh… “ saya heran aja, kalo memang senang, naksir dia caranya tidak seperti itu, inget ebeh ini siapa? Ga Cuma dosen aja…. Malu sama umat beh…” lanjut istrinya membuka semua yang dia ketahui.
Saya ingin buktikan kepada umat, bahwa poligami itu boleh, saya rela ebeh kawin lagi. Tapi apa bener pilihan ebeh itu adalah dia, kalaupun iya, caranya beh…. Caranya ga bener” dengan suara yang agak berat istrinya melanjutkan.

Iwan makin terisak. Entah apa yang dirasakan Iwan. Malu, marah atau sedih tidak jelas. Yang pasti Iwan mengangguk ketika istrinya meminta Iwan untuk mengehentikan interaksi yang tidak benar ini. Dan Istrinya juga cerita kalau sebenarnya sudah mengetahui lama, dan sering ber-sms-an dengan Uut. Malah Uut memanggil istrinya mami. Dan ada keinginan untuk mengaji bersama istrinya.
Setelah peristiwa itu, Istri Iwan menyampaikan kepada Uut agar mereka menghentikan interaksi ini. Iwan dan Uut akhirnya bersepakat untuk tidak berhubungan lagi.

To be continued….

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Asslm,,
Wuizzss,,,,
Mana lg lnjutanny biar dilahap skalian,,
Wkwkwk,,
Jd pnulis ja gn pa,he,,
Ntar kli bkuny dah kluar pkonya lun org ptma (di luar klwrga) yg dkasih tau n dpt bkuny plus ttd dluan,,
He,,
SMANGAT!!!

3am mengatakan...

asslm pak...

wihh... makyuss... dihadangi kelanjutannya pak...

boleh donk pa bagi2 ilmunya, biar bisa ketularan kreatif nulis cerita fiksi ky gini... hehe...

agil suratno mengatakan...

to All :
Terimakasih atas semua komentarnya... kata ibu naylia Don'T StOp WriTing!!!!

buat Anonim : Oke deh... kepikir jadi buku tapi siapa yang bakal baca ya....

buat 3am :
hehe jadi malu... lu kan lebih jago nulis....
tanya deh ama bu nay...

Anonim mengatakan...

Takkan ad lagi tawa canda itu,,, takkan ada lagi cerita itu,,, biarlah smuanya dipendam,,, kubur dalam2,,, cerita yg beggitu kelam,,, semoga menjadi pelajaran bagi qt smua,,, amin,,,

Selamat jalan pa,,,
semua yg telah terjadi biar Allah yg mengadili,,,
semoga amal ibadah pyan diterima oleh Allah SWT dan smoga sgala khilaf diampuniNya pula,,, amin,,, T_T
berelaan pa lah,,, T_T